Rabu, 14 Oktober 2015

Revitalisasi Strategy Dakwah Modern dalam Menjawab Problematika Ke-Umatan

 

Himpunan Mahasiswa Islam sebuah organisasi Mahasiswa yang masih tetap eksis dalam dinamika zaman yang saat ini telah mengalami perubahan-perubahan dan juga telah menghadapi berbagai macam ancaman, tetapi tetap menunjukkan sebuah ghirah perjuangan yang tak pernah lekang oleh waktu. Amanat penderitaan rakyat yang sampai saat ini menjadi sebuah cita-cita dari revolusi kita yang belum selesai, dan merupakan sebuah periode keempat dari awal revolusi yang telah disebutkan oleh bung karno dalam bukunya yang berjudul Panca Azimat Revolusi. Saat ini HMI masih konsisten dalam melakukan setiap proses perkaderan untuk mempersiapkan kader-kadernya menghadapi tantangan kebangsaan di masa depan, Revolusi tidak hanya terjadi di Indonesia tapi semua umat manusia di seluruh dunia melakukan usaha untuk terus melakukan perubahan, dan kalau Revolusi di Indonesia dikatakan selesai maka bersiaplah Indonesia akan digilas sendiri oleh rakyatnya. Sehingga kekonsistenan HMI dalam melakukan Training-trainingnya harus tetap dijaga tapi bukan berarti meninggalkan sebuah bentuk ijtihad lapangan agar tidak meninggal sebuah discovery yang pada akhirnya menemukan sebuah inovasi nilai perkaderan. Seperti halnya Bung Karno terus melakukan Ijtihad kepmimpinan untuk membenahi pemerintahan di negeri ini.
Dari sekian fase yang dihadapi oleh HMI, baru kali ini kader-kader HMI merasa kalau HMI kian meleset dari tujuan luhur para pendirinya salah satunya adalah mengembangkan nilai-nilai ke-islam-an, ini sebenarnya yang menjadi keresahan bagi segelintir kader yang menyadari akan pentingnya melakukan pembaharuan terhadap nilai-nilai ke-islam-an, sehingga Islam tidak kembali pada sebuah keasingan bagi pemeluknya, karena Islam tidak lagi menjadi solusi terhadap problem yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Melihat kader-kader HMI saat ini yang sudah kian menjauh dari ajaran qur’ani (Islam), yang kemudian banyak kader HMI yang tidak bisa membaca dan menulis Al-Qur’an, ini salah satu problem yang cukup mendasar dan tidak perlu dipahami dengan teori logika yang rumit, dan itu sudah bisa dijadikan bukti kalau banyak kader HMI yang sudah kian tidak memahami akan sebuah nilai yang ada dalam Islam, sehingga Islam hanya dipandang sebagai bentuk dari doktrin belaka tapi tidak dipandang sebagi ilmu pengetahuan, padahal kata Natsir kalau agama yang benar adalah agama yang tidak hanya bisa menentramkan buat diri pemeluknya saja, tapi juga mampu menjawab kegandrungan intelektualnya. Sehingga Natsir kemudian melanjutkan kalau Islam akhirnya tidak dipandang sebagai agama saja, tapi juga merupakan sebuah petunjuk bagi para pemeluknya. Makanya Natsir dengan kendaraan Partai Masyumi-nya membawa misi Islam harus dijadikan sebagai dasar Negara. Meskipun Natsir sangat lentur dengan penerimaan terhadap pancasila sebagai dasar negara, itu hanya agar Natsir tahu apa sih sebenranya argumentasi para parlement yang mengusung Pnacasila sebagai dasar negara dan bukan Islam. Dari kesadaran ini-pun LDMI HMI Cabang Surabaya mempunyai sebuah goal atau mimpi besar kalau dalam bahasa Rencana Strategis, untuk kembali mengaktifkan diskusi-diskusi tentang pengembangan-pengembangan implikasi nilai-nilai Islam. Karena kata Cak Nur kalau Nilai sampai kapanpun tidak akan pernah mengalami perubahan, hanya dari segi implikasi dan implementasinya saja yang akan mengalami perubahan. Karena dari kedangkalan pemahaman terhadap nilai-nilai ke-islam-an inilah yang kemudian menjadi sebuah dasar terjadinya pertentangan ditataran umat Islam sendiri. Sehingga umat Islam menjadi berbagai macam bentuk dan mempunyai landasan sendiri-sendiri. Kadang ini juga menjadi sebuah pertentangan yang sangat akut ditataran berbagai macam aliran di wilayah Islam, sehingga Islam yang sangat menjunjung tinmggi sebuah toleransi antar agama tapi ketika terjadi perebedaan pemahaman terhadap teks, nilai toleransi yang diajarkan oleh Islam sudah kabur bahkan tidak mampu dipahami kembali, dari senilah pertikayan itu dimulai, antara yang satu dengan yang lain mulai membenarkan alirannya masing-masing. Ini kami anggap sebagai sebuah problem yang dihadapi oleh umat saat ini, dan ini harus dijawab dengan lebih masifnya sebuah dakwah-dakwah Islamiyah ditataran umat Islam. Sehingga Islam bisa dipahami secara utuh baik substansi maupun literal.
Berbicara Revitalisasi ini memang benar-benar sangat dibutuhkan dengan konteks kebutuhan zaman saat ini, karena dakwah yang hanya dilakukan di atas mimbar sebagaimana yang telah banyak dilakukan oleh para da’i saat ini hanya sebatas pemberian Mau’idhah hasanah bukan dalam bentuk uswatun hasanah, sehingga dakwah yang hanya sebatas bil-qaul saat ini sudah semakin tidak efektif lagi, karena itu bisa dikatakan dakwah saat ini yang dilakukan gagal, karena problem-problem keummatan yang terjadi itu semuanya dari umat Islam sehingga Islam datang bukan sebagai solusi tetapi menimbulkan kegaduhan diantara para umat dan itu harus disadari kalau saat ini Me-Revitalisasi sebuah strategi dakwah menjadi sebuah hal yang sangat penting untuk dilakukan, artinya Dakwah saat ini harusnya sudah mampu juga mewarnai kehidupan (Dakwah Bil-Af’al) kita juga, bukan malah menjadi yang gagal dalam kehidupannya. Seharusnya Dakwah saat ini harus mampu membaca dan mempersiapkan kehidupan masa depan bukan terus-terusan membahas semua yang telah terjadi di 15 abad yang lalu.
 
 
Amelia Karunia Ar-Rakhman
Komisariat Ushuluddin HmI Cabang Surabaya

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar