TINTA EMAS SEJARAH ISLAM
Sejarah telah membuktikan bahwa
Islam pernah menjadi sebuah kekuatan besar dalam segala bidang dan aspek kehidupan.
Dan itu masih sangat segar dalam ingatan kita semua. Dan Islam tidak hanyalah sejarah,
karena Kebangkitan Islam akan segera mewarnai roda kehidupan di muka bumi.
–AmyliaKarunia
AR-
Sebuah peradaban tak lepas dari 3 hal menurut Ibn Khaldun; pertama
adalah masa awal (merintis), kedua, Masa kejayaan dan ketiga adalah kemunduran.
Itu merupakan sebuah fenomena yang sunnatullah terjadi adanya. Dan begitupun
yang terjadi pada dunia Islam, pada masa awal Islam merintis kejayaannya hingga
pada puncak kejayaannya yang terjadi pada masa dinasti Abbasiyah yang mana tokoh-tokoh
yang mampu menginspirasi dunia hingga saat ini, contohnya; dalam bidang
Filsafat, lahir tokoh seperti Alkindi, AlFarabi, Ibnu Tufail, Ibnu Sina dan
Al-Ghazali. Bidang kedokteran, Jabir Ibnu Hayan, Hunain Bin Ishaq, dll. Masih
banyak sekali kemajuan dunia Islam pada
masa Dinasti Abbasiyah dalam bidang lainnya yang tak bisa penulis sebutkan
satu-satu disini. Dan itu sedikit banyaknya sangat mempengaruhi perkembangan
peradaban dunia tidak terkecuali Negara Barat. Jasa besar Ilmuwan Muslim atau
umat Islam secara keseluruhan itulah maka penulis mengutip pernyataan dari
Marshall G. S. Hodgson menyebutkan bahwa seseorang tidak bisa memahami sejarah
peradaban dunia, terutama sejarah peradaban modern ini, kalau tidak memahami
sejarah peradaban Islam.
Peradaban Islam membawa semangat yang sangat luar biasa, terutama
dalam bidang khazanah keilmuwan. Karena ilmu itu akan abadi, melekat, menetap,
dan selalu hidup dalam jiwa dan keseharian pola pikir kita. “Ilmu pengetahuan itu” kata Nabi Saw., “adalah
cahaya”. Selayaknya sebuah cahaya yang selalu menerangi disetiap jengkal
langkah yang kita lewati, memasuki setiap sekat-sekat yang dibangun, cahaya
adalah penerang. Menerangi disetiap kegelapan, disaat salah arah dan tujuan.
Maka, ikutilah kemana cahaya membawamu pergi. Pada dasarnya ilmu itu adalah
harta yang paling berharga dalam hidup kita, menuntun kita pada arah kebenaran,
menyimak pernyataan dari filsuf awal Muslim al-Kindi (801-873) berkata; Tidak
ada yang lebih dicintai oleh para pecinta kebenaran daripada kebenaran sendiri,
dari manapun datangnya, dari siapapun berasal, dan dalam bentuk apapun adanya;
bahkan, dia bersedia mengabdi kepada kebenaran itu dengan mengerahkan segenap
jiwa raganya (dikutip dalam Adamson, 2007: 23).
Ilmu itu akan terus hidup, terus berkembang dan menyebar luas
kemanapun langkah kaki kita berpijak, semua itu akan terjadi apabila kita terus
mengamalkannya, menyuarakan apa-apa yang kita ketahui dan mengajarkan apa yang
kita pahami. Tapi dalam dewasa ini, sering kali kita melihat bahwa umat Muslim
memiliki sikap eksklusivisme terhadap ilmu pengetahuan. Rendahnya keterbukaan
antar sesama ilmuwan muslim menjadi salah satu alasan mengapa umat Islam pada
saat ini mengalami degradasi dalam bidang ilmu pengetahuan. Tidak adanya
kolaborasi dan terkesan sangat individualistic, kenyataannya bahwa ada integrasi
dari ilmu satu dan ilmu yang lainnya, untuk itu seyogyanya perlu kolaborasi
antar ilmuwan muslim dengan yang lainnya. Berbagai Karena mengacu pada historis
umat Islam klasik adalah adanya sikap saling keterbukaan dalam ilmu
pengetahuan. Maka tak jarang ilmuwan Muslim seperti Ibn Sina yang merupakan
ahli kedokteran dan fisika, namun juga sekaligus seorang filsuf dan hafidz
al-Quran. Sarjana Muslim klasik dapat menguasai berbagai cabang ilmu
pengetahuan karena adanya kolabarasi.
