Jumat, 09 Februari 2018

HARGA SEBUAH KEMERDEKAAN

INDONESIA merdeka , inilah tujuan kita untuk selama-lamanya. Saya ingat buku tulisan dari Tan Malaka sang revolusioner yang pada akhirnya harus mati ditangan bangsanya sendiri. Beliau mengatakan dalam bukunya MERDEKA 100% bahwa kemerdekaan seseorang dibatasi dengan kemerdekaan manusia lainnya, dalam artian bahwa kita tidak bisa semena-mena dalam menjalankan hak-hak kita sebagai seorang manusia. kebebasan kita tidak boleh sampai menganggu kebebasan orang lain, apalagi sampai menimbulkan kerugian dan keresahan untuk masyrakat. Berbicara tentang merdeka, saya merasa bahwa Indonesia belum sepenuhnya merdeka dan bisa dikatakan belum merdeka. Kenapa seperti itu, kita bisa lihat nilai impor kita masih sangat tinggi, petani saja belum bisa berdikari. Contoh kecil saja menurut kementrian Pertanian mengkalaim kita surplus 329.000 ton beras per bulan Januari 2018, tapi nyatanya dilapangan pemerintah malah mengimpor 500.000 t0n beras dari luar. Kalau kita lihat sepintas ,dan kemudian kita lihat dengan sangat jelas pun kebijakan ini sangat merugikan masyarakat. Dimana pada saat awal bulan Maret petani di seluruh Indonesia akan panen raya. Saat kita tinjau lebih dalam lagi kepada kementerian perdagangan yang mengakomodir import beras ini, ternyata mereka tidak memiliki data yang sangat kuat kenapa pemerintah harus melakukan impor beras pada hari dimana petani seharusnya merayakan panen raya. Sebuah ketimpangan sosial yang terjadi ini tidak hanya pada sektor pertanian, perdagangan, tetapi juga pada sektor kesehatan dan pendidikan.  

Beberapa konsep gagasan untuk mengisi kemerdekaan Indonesia telah dituangkan, para pakar ahli dari mulai ahli hukum, ahli diplomasi, ahli pertanian, ahli pendidikan dan semuanya berkumpul untuk meramu kembali bagaimana agar Indonesia bisa kembali pada tujuan awalnya. Indonesia adalah sebuah sistem negara yang mengakomodir banyak kepentingan orang. Tetapi hingga detik ini, hampir usia 73 tahun Indonesia merdeka, formulasi atau konsep untuk mengisi kemerdekaan itu belum ada, Usia yang hampir 73 tahun, bukan termasuk usia yang masih muda lagi, tetapi mendekati masa-masa yang hampir matang. setidaknya Indonesia memiliki sikap untuk menghargai arti sebuah Kemerdekaan. Kemerdekaan ini tidak dengan mudah kita dapatkan begitu saja. Para founding father kita bersama rakyat mengorbankan jiwa raga mereka demi untuk kemerdekaan. Tangisan, darah, air mata, Penghianatan dan bahkan pengungsian dan kematian menghiasi perjuangan mereka dan menghantui mereka kapan saja. Untuk itu, begitu berat sekali perjuangan mereka, dan perjuangan kita pada masa kita pun sekarang juga tidak kalah beratnya. karena kita melawan bangsa kita sendiri. begitu kutipan dari kata-kata Soekarna. Dan ketika melihat perjuangan mereka dan kondisi hari ini, hatinya sangat hancur, ingin berontak terhadap segala ketidakadilan ini. 

Minggu, 07 Januari 2018

Tinta Emas

TINTA EMAS SEJARAH ISLAM
Sejarah telah membuktikan bahwa Islam pernah menjadi sebuah kekuatan besar dalam segala bidang dan aspek kehidupan. Dan itu masih sangat segar dalam ingatan kita semua. Dan Islam tidak hanyalah sejarah, karena Kebangkitan Islam akan segera mewarnai roda kehidupan di muka bumi.
–AmyliaKarunia AR-
Sebuah peradaban tak lepas dari 3 hal menurut Ibn Khaldun; pertama adalah masa awal (merintis), kedua, Masa kejayaan dan ketiga adalah kemunduran. Itu merupakan sebuah fenomena yang sunnatullah terjadi adanya. Dan begitupun yang terjadi pada dunia Islam, pada masa awal Islam merintis kejayaannya hingga pada puncak kejayaannya yang terjadi pada masa dinasti Abbasiyah yang mana tokoh-tokoh yang mampu menginspirasi dunia hingga saat ini, contohnya; dalam bidang Filsafat, lahir tokoh seperti Alkindi, AlFarabi, Ibnu Tufail, Ibnu Sina dan Al-Ghazali. Bidang kedokteran, Jabir Ibnu Hayan, Hunain Bin Ishaq, dll. Masih banyak sekali kemajuan dunia Islam  pada masa Dinasti Abbasiyah dalam bidang lainnya yang tak bisa penulis sebutkan satu-satu disini. Dan itu sedikit banyaknya sangat mempengaruhi perkembangan peradaban dunia tidak terkecuali Negara Barat. Jasa besar Ilmuwan Muslim atau umat Islam secara keseluruhan itulah maka penulis mengutip pernyataan dari Marshall G. S. Hodgson menyebutkan bahwa seseorang tidak bisa memahami sejarah peradaban dunia, terutama sejarah peradaban modern ini, kalau tidak memahami sejarah peradaban Islam.
Peradaban Islam membawa semangat yang sangat luar biasa, terutama dalam bidang khazanah keilmuwan. Karena ilmu itu akan abadi, melekat, menetap, dan selalu hidup dalam jiwa dan keseharian pola pikir kita. “Ilmu  pengetahuan itu” kata Nabi Saw., “adalah cahaya”. Selayaknya sebuah cahaya yang selalu menerangi disetiap jengkal langkah yang kita lewati, memasuki setiap sekat-sekat yang dibangun, cahaya adalah penerang. Menerangi disetiap kegelapan, disaat salah arah dan tujuan. Maka, ikutilah kemana cahaya membawamu pergi. Pada dasarnya ilmu itu adalah harta yang paling berharga dalam hidup kita, menuntun kita pada arah kebenaran, menyimak pernyataan dari filsuf awal Muslim al-Kindi (801-873) berkata; Tidak ada yang lebih dicintai oleh para pecinta kebenaran daripada kebenaran sendiri, dari manapun datangnya, dari siapapun berasal, dan dalam bentuk apapun adanya; bahkan, dia bersedia mengabdi kepada kebenaran itu dengan mengerahkan segenap jiwa raganya (dikutip dalam Adamson, 2007: 23).
Ilmu itu akan terus hidup, terus berkembang dan menyebar luas kemanapun langkah kaki kita berpijak, semua itu akan terjadi apabila kita terus mengamalkannya, menyuarakan apa-apa yang kita ketahui dan mengajarkan apa yang kita pahami. Tapi dalam dewasa ini, sering kali kita melihat bahwa umat Muslim memiliki sikap eksklusivisme terhadap ilmu pengetahuan. Rendahnya keterbukaan antar sesama ilmuwan muslim menjadi salah satu alasan mengapa umat Islam pada saat ini mengalami degradasi dalam bidang ilmu pengetahuan. Tidak adanya kolaborasi dan terkesan sangat individualistic, kenyataannya bahwa ada integrasi dari ilmu satu dan ilmu yang lainnya, untuk itu seyogyanya perlu kolaborasi antar ilmuwan muslim dengan yang lainnya. Berbagai Karena mengacu pada historis umat Islam klasik adalah adanya sikap saling keterbukaan dalam ilmu pengetahuan. Maka tak jarang ilmuwan Muslim seperti Ibn Sina yang merupakan ahli kedokteran dan fisika, namun juga sekaligus seorang filsuf dan hafidz al-Quran. Sarjana Muslim klasik dapat menguasai berbagai cabang ilmu pengetahuan karena adanya kolabarasi.